Rabu, 30 Mei 2012



ADALAH AKU DAN ALLAH...
Mungkin terlalu melelahkan ketika aku tak bisa lagi berkata dengan segala yang aku suka dahulu. Terlalu banyak kata yang tak bisa aku ucap ketika jiwa telah lelah dalam asaku. Terlalu .....hufh...! melelahkan juga mengungkapkan betapa lelahnya jiwaku ini. Kata jangan menyerah hanya seolah kata yang berkeliaran di otakku tanpa menunjukkan eksistensinya di jiwa dan hatiku.
Sudahlah. Menjalani apa yang telah Allah berikan pada kita mungkin jauh lebih bermanfaat. Bukankah dunia ini adalah tempat perjuangan bukan tempat untuk bersenang-senang ? tempat untuk mengumplkan bekal sebanyak-banyaknya untuk dinikmati di akhirat nanti ?. entah bagaimana jadinya dunia ini jika tak ada surga sebagai iming-iming dan neraka sebagai penakut manusia untuk meminimalisir kemungkarannya. Dan mungkin 100 % sangat benar ketika orang bijak berkata jika dunia semakin lama tidak mungkin semakin baik, mungkin pula telah terbukti dengan banyaknya status agama hanya indah di sandang saja, tidak merasuk dalam hati sanubari. Tidak mengakar dalam batang jiwanya. Tidak mendarah daging dalam jasmaninya.
Mungkin pula aku terlalu munafik berkata begitu, sedang aku sendiri seperti ni. Di beri nikmat, benar mengucap hamdalah, sayangnya masih sebatas di mulut saja belum terlaksana lewat perilaku dengan memanfaatkan nikmat itu dengan sebaik-baiknya.
Aku bingung hendak berkata apa. Aku kesulitan mengatur perilaku untuk tunduk pada nurani. Aku tahu banyak kata yang telah berhasil mengalirkan airmata di wajahku. Aku tahu banyak kisah ceritera yang menyandra hati untuk merenungkannya. Mempertanyakan keislaman dan keimanan. Aku tahu.....
Manusia macam diriku hanya mampu membual dengan kata-katanya. Munafik dengan perkataannya.
Muslim. Muslimah, aku ingin menjadi islam tak hanya di mulut saja. yang hidupnya bukan untuk hidup, tapi untuk Sang Maha Hidup. Hidupnya bukan untuk mati, tapi justru matinya untuk hidup. Muslimah yang tidak takut mati karena sejatinya mati bukanlah wafat, mati bukanlah ujung hidup dan kehidupan, namun tonggak awal keabadian hidup.
Hati bertanya pada diri. Bisakah aku menyenangkan batin dengan mengejar kebaikan dan perbaikan ?. hatiku bersaran, biarlah miskin dan sabar sementara ,dari pada menjual agama jadi kafir.
Hati, naluri dan batin telah bersekongkol membungkus diri menjadikan kepompong yang siap memetamorfosis aku menjadi kupu-kupu bersayap indah, menyejukkan pandangan mata siapapun, terbang menebarkan keindahan dan kebaikan. Mewarnai bukan di warnai.
Laksana sang laksamana, berkata bijak untuk hidup yang bijak. Berbekal bijak untuk berpijak. Dengan bismillah aku memilah, mana yang buruk mana yang salah.
Betapapun  tak mampu meraih, bukan berarti alasan untuk tidak di gapai. Sekalipun susah bukan berarti tidah bisa. Allah menganugrahiku akal, lalu kenapa tidak aku pergunakan ?. Bukan karena manusia bodoh hingga tak bisa hidup yang berkualitas, tapi lebih kepada malas yang dipelihara. Bukan karena manusia berkemampuan terbatas tak bisa berkarya sepanjang waktu. Tapi terlebih karena  keinginannya yang ia batasi.
                Hidup adalah perjuangan. Perjuangan modalnya adalah usaha. Usaha berhasil jika ada keinginan. Keinginan akan menjadi kuat jika di awali niat tulus lillahi ta’ala.
                Kan kubiarkan jiwa, hati, nurani kan kalbuku bebas dengan apa yang ingin di adikaryakan. Kan ku biarkan segala semangat yang membakar menularkan percikan apinya pada setiap niat, keinginan, usaha dan perjuanganku hingga akhirnya adikarya terbaikku terwujud, hidup yang benar-benar hidup, tak hanya mengaku hidup dangan segala kebodohannya. Karena sejatinya tanda hidup adalah bergerak, tandanya bergerak adalah melakukan perubahan. Hidup tanpa adanya perubahan, lebih baik di takbiri saja kematiannya, karena hidupnya tak ada bedanya dengan mati, hidupnya telah mati jauh sebelum jasatnya mati.
                Di sisa umurku yang entah masih panjang atau tidak, di sisa usahaku yang entah ada artinya atau tidak. Aku ingin suatu saat nanti menjadikan masa senjaku dengan di temani kejayaan masa mudaku. Di kelilingi dengan karya yang bisa di baca orang, yang bisa dimengerti orang sebagai tanda aku pernah hidup, sebagai tanda bahwa aku bukan hanya manusia yang terlahir untuk memadati bumi yang semakin sesak saja. bukan manusia yang hanya setiap detiknya berfikir sejauh mana ia hidup dan menghidupi kehidupannya. Tapi hidup untuk menghidupi kematian. Hidup untuk menghadapi kematian. Hidup untuk meninggalkan belangnya sebagai tanda bahwa ia pernah mengaumkan karyanya saat ia hidup.
                Aku dan karyaku.....
                Aku dan hidupku...
                Aku dan matiku.....
                Adalah segala aku dan Tuhanku.....
                Adalah aku dengan agamaku....
                Adalah aku dan Allah......

Surabaya, jum’at, 18 mei 2012, 18:16
 
مخلصة

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar