Rabu, 30 Mei 2012


SEPENGGAL CERITA SI KATAK DALAM TEMPURUNG
Sukses bukan milik orang pintar, bukan milik orang cerdas, pun pula bukan milik orang kaya. Tapi, milik mereka yang mau berusaha lebih keras dari siapapun. Tak peduli takdir telah menusuk dan mencincangnya berapa kalipun, tak peduli seberapa banyak  ia terjatuh. Asal setelah jatuh ia terbangun, asal setelah hancur ia menata hati kembali. Selalu ada pilihan dalam hidup ini, tidak ada keterpaksaan.”
Aku bukanlah anak dari pengusaha kaya, dan bahkan dalam mimpipun tak berani mengaku anak seorang presiden. Aku hanyalah sesengguk nafas yang Allah biarkan terlahir dari seorang wanita ummiy, tak bisa baca dan tulis yang masih memiliki kenangan masa kecil bersama Indonesia dan penjajahnya dahulu. Bukan hal yang asing bagi wanita itu untuk tidak makan asal anak-anaknya bisa menelan nasi jagung yang meski tak cukup membuat perut siapapun kenyang dengannya. Seorang wanita yang tanpa keluhan mengandung tumor tak kurang dari 6 tahun dengan bobot 12 kg.
Seorang wanita yang tetap bekerja di sawah orang meski hujan deras, meski telunjuknya terus saja mengalirkan darah, ia tak peduli. Asal ia dapat mengirimi anak perempuannya uang yang cukup di Pondok Pesantren Nurul Qarnain untuk menyerap ilmu agama agar anaknya tak jadi orang sombong yang berilmu tanpa agama.
Madrasah Aliyah Nurul Qarnain bukanlah lembaga pendidikan yang aku kehendaki. Tapi takdir mengirimku ke situ. Tahun pertama aku lalui dengan penuh syukur atas keajaiban-Nya. Mengapa tidak ? pasalnya, saat aku menginjakkan kaki di bumi NQ (Nurul Qarnain), di situ aku harus menderita sakit, bahkan 4 dokter semuanya beda diagnosanya. Kakiku bengkak, muncul bintik-bintik merah di sekujur kaki.  Entah aku harus percaya atau tidak pada hal-hal mistis, konon hal tersebut mantan tunanganku yang melakukannya. Ya, selama 10 bulan di usiaku yang baru menginjak 14 tahun, aku sudah ditunangkan. Aku rasa memang begitulah penduduk desa yang masih memegang teguh adatnya, bahwa lamaran pertama harus diterima sekalipun aku tak menginginkannya. Aku tak punya kuasa. Sempat waktu itu aku berfikir, haruskah aku bangga menjadi orang Indonesia ? dimana Indonesia yang mengaku kaya akan budayanya telah menyebabkan aku terjatuh dalam pertunangan yang aku benci ini.
Waktu terus melesat tanpa peduli siapapun yang memintanya untuk kembali, seiring itu pula aku mulai merasa bahwa NQ memang tempat terbaik untukku. Perasaan ini aku alami di tahun ketigaku.
Seusai UN. Semua anak sibuk dengan rencananya hendak ke mana mereka melanjutkan hidup. Ada yang bangga bercerita tentang universitas yang akan diambilnya. Ada pula yang berpura bahagia dengan berkata ia akan menikah setelah lulus. Atau bahkan ada yang ketakutan tidak lulus UN. Sedang aku ?......saat itu aku hanya menangis dalam sujud, membasahi sajadah hanya karena takut. Takut harus kemana ia. Seorang gadis berusia 17 tahun yang masih mengaku dirinya anak kecil,  takut  mendengar perkataan ayahnya.“Cukup sampai di sini ayahmu ini membayar kewajibannya sebagai orang tua untuk melihat anaknya sekolah, setelah ini kamu harus keluar. Ada tawaran pekerjaan untukmu. Jadi, lebih baik kamu di rumah sambil bekerja membantu keluarga”.
Kala itu aku hanya menunduk tak dapat berkata. Memang apa yag bisa aku katakan ? “ Aku ingin kuliah”, kata-kata itu tak kuasa aku ucapkan dengan kondisi keluargaku yang seperti itu. Namun waktu itu aku masih melindungi keinginaku untuk menyentuh bangku kuliah dari kebinasaan, karena aku percaya dimana ada keinginan disitulah jalan terbentang. Tinggal menunggu dan bersabar saja.
Berfikir untuk terus bertahan di NQ. Yang aku hadapi hanya perasaan takut, takut dan takut. Entah ketakutan macam apa, hanya saja aku takut berpisah dengan NQ yang telah banyak merubahku, yang telah banyak memberiku pengetahuan tentang agamaku, yang mengizinkanku bertemu dengan orang-orang yang menakjubkan, yang mengajarkanku arti belajar mahabbah ilallah.
“Kamu mau melanjutkan ke mana, lis ?”
Entah kenapa pertanyaan seperti itu selalu saja berhasil menjelma bak anak panah yang meluncur tepat di ulu hatiku.
“Aku ingin kuliah”.
Hanya kata-kata itu yang terus ku lantunkan. Entah kuliah di mana. Padahal fakta berkata, pendaftaran bidikmisi di UNEJ sudah pupus. Hanya saja hatiku terus berkata demikian. Aku pasti bisa kuliah.
“Setelah lulus, ibumu ini tak bisa membantumu lagi. Kamu di rumah saja, mencari pekerjaan atau menikah saja. Setidaknya itu akan lebih baik untukmu”.
Lagi-lagi pernyataan seperti itu yang aku dengar.  kenapa ?
Aku bukanlah orang yang pintar terlebih mengaku dirinya cerdas. Tapi setidaknya dengan semangat yang aku punya, aku masih bisa mengumandangkan harapan. Tapi apakah semangat itu harus  hancur sekarang ?, berulang kali aku menata hati bahwa ini bukanlah akhir dari segalanya. Tidak kuliah bukan berarti tidak bisa belajar  bukan ?, tidak di NQ bukan berarti duniaku berakhir, bukan ? Namun tetap saja......
“Saya bisa membantumu untuk kuliah lewat jalan beasiswa......”
Akhirnya, setelah lama aku bergulat dalam kegelapan keputus asaan. Kata-kata itu hadir dari seorang guru yang benar-benar membentuk harapan baru bagi muridnya ini. Hingga bisa dengan berani berkata pada orang tuanya “ Apa saya boleh kuliah jika ada beasiswa ?”
“Boleh”.
 Satu kata yang membuatku bangkit kembali. Setidaknya kini aku percaya bahwa Allah itu tidak buta, tidak tuli. Masih tetap mendengarkan munajah hambanya. Inilah jalan yang Allah tunjukkan pada hambaNya dalam penantiannya.
Sejak saat itu, aku bersama dua temanku yang lain terus berlatih dan belajar demi bekal kesiapan ujian PBSB tanggal 04 Mei 2011.
 Senin sore,02 mei 2011. Sehari menjelang keberangkatan kami menuju Surabaya. Perasaanku terpukul sebab perkataan seorang yang kufikir akan menjadi semangatku. Seorang yang mengaku benalu yang telah kering termakan zaman, yang memintaku untuk menyudahi semua....hufh !
 Keberangkatan yang harus diiringi airmata. Keberangkatan yang sebelumnya harus menyaksikan seorang ayah tertidur di ranjang tanpa daya karena sakitnya. Tapi aku bukanlah orang yang akan mengedepankan perasan pada apa yang ingin aku raih. Setidaknya aku mencoba untuk terlihat tegar dari luar, meski rapuh di dalam. Setidaknya aku masih tetap berusaha tersenyum, meski tanpa ketulusan. 
Keberangkatan yang sebelumnya telah berpamit pada segenap ahlul bait dan berbekal do’a dari para laskar NQ. Bahkan ustadz Nawi memberi kami amalan agar dimudahkan dalam ujian, yaitu berupa shalawat nariyah yang dibaca sebanyak 4.444 kali serta basmalah 3.000 kali, dan itu sungguh penuh perjuangan untuk mencapainnya, saat belajarpun mulut masih melantunkan shalawat itu. Shalawat yang kusukai maknanya, mencerminkan keagunangan bahasa sastra yang berisi puji-pujian, ketakjupan pada Nabi Muhammad karena risalah yang dibawanya mengantarkan keridhaan dan izin Allah yang akan mengabulkan segala do’a dan harapan hamba-Nya. Harapan untuk menimba ilmu di kota Surabaya sana.
Aku mencoba memahami maknanya. Shalawat yang hingga saat ini terus kulantunkan ba’da lima waktu.
Ya Allah, berikanlah shalawat dan salam yang sempurna kepada Nabi Muhammad, yang dengannya terlepas semua ikatan kesusahan dan dibebaskan semua kesulitan. Dan dengannya pula terpenuhi semua kebutuhan, diraih segala keinginan dan kematian yang baik, dan dengan wajahnya yang mulia tercurahkan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih. Semoga shalawat inipun tercurahkan kepada kelurganya dan para sahabatnya sejumlah seluruh ilmu yang Engkau miliki.
Berangkat dengan kereta kelas ekonomi, menginap di hotel meski tak mewah, taxi sebagai alat transportasi, dan tugu pahlawan yang menyambut kedatangan kami. Sungguh indah bukan ? segalanya itu baru pertama kalinya bagiku. Si katak yang sebelumnya hanya berkutat dengan tempurungnya, kini mulai membuka mata. Memulai pengembaraannya dari titik 04 mei 2011 ketika ujian PBSB di asrama haji, Sukolilo. Inilah sebuah kado terindah yang ku harap menyambutku di 06 Mei 2011, hari ulang tahunku.
25 Mei 2011 ba’da maghrib, kepala sekolah yang sekaligus ahlul bait memanggilku. Aku membenakamkan diri  dalam sujud syukur sebab dauh beliau bahwa aku termasuk sebagai salah satu penerima PBSB. Mimpi yang sangat indah, namun ini nyata. Seorang santri yang ketakutan akan berhenti meraup ilmu di pesantren atau yang paling parah adalah terjebak dalam pernikahan dini, kini mendapat beasiswa di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. Sebuah kemenangan yang bukan hanya aku merasakannya, terlebih pihak sekolah dan pesantren yang belum pernah mendapati santrinya mendapat beasiswa itu. Bahkan tak sia-sia rasanya aku bernadzar puasa Daud selama 3 bulan karenanya.
Namun kebahagiaan itu terlalu dini di kumandangkan, sekejab berita itu merebak. Bahkan saat  penerimaan ijazah sekaligus tasyakkuran kelulusan, fotoku di pampang dalam banner tak kurang dari 2 meter. Sungguh dahsyat berita itu merebak.  
03 juli 2011 aku kembali menginjakkan kaki di tanah Surabaya. Kali ini aku hanya ditemani seorang guru. Tujuanku adalah mengikuti tes masuk UNAIR jalur PMDK/Mandiri sebagai salah satu syarat masuknya aku di Universitas Airlangga. Kali inipun aku berangkat membawa airmata, bukan tanpa sebab. Sekitar  ba’da isya’ tertanggal 28 Juni 2011, ayahanda tercinta berpulang kerahmatullah.
Jatuhnya airmata bukan karena aku berstatus anak yatim, bukan karena tak ada sesosok laki-laki itu yang bisa kupanggil ayah lagi, karena sejatinya setiap yang bernyawa ini pasti mengalami yang namanya mati, tak terkecuali aku dan engkau nanti. Tapi kantong airmata ini tertusuk karena perkataan terakhirnya sesaat sebelum ia menjalani sakratul mautnya. Entah aku harus percaya atau tidak, karena aku sendiri tak mendapati keluargaku mengungkapnya padaku. Hanya saja aku mendengarnya dari salah seorang tetanggaku.
Lebih sejak 2 bulan ayahku sakit keras dan selalu bersihkeras tak mau di rawat di rumah sakit. Sampai saat itu juga aku masih bersenang hati berada di NQ. 28 Juni 2011 ba’da maghrib, sudah banyak orang membanjiri rumahku. Satu persatu nama disebutkan untuk berkumpul di dekatnya, anak-anaknya dan istrinya. Namun hanya ada satu nama yang  tak disebutkan kala itu, yaitu Lisa. Kenapa hanya aku ?....”Dia bukan anakku, biarkan dia pergi ke Surabaya. Jangan ganggu dia”.....kata-kata itu...benarkah keluar dari seorang yang selama ini ku panggil ayah ?, bahkan dia tak mengizinkan kakakku untuk menjemputku ke pesantren. Sampai setega itukah ?....bukankah telah usai aku meminta restu dari kedua orang tuaku dulu untuk mengembara mencari secuil demi secuil ilmu dari Surabaya ?
Sepupuku tiba di pesantren menjemputku.
“Bapak sudah kritis, ayo pulang sebentar. Kyai sudah mengizinkan ”
Tak ada jawaban dariku. Hanya saja airmata meluncur tanpa bisa kukendalikan. Aku yang tak tahu menahu, yang kufikir ayah sakit keras, begitu merasa aneh ketika banyak orang memenuhi rumah hingga berderet motor meluap ke depan jalan rumah. Sampai di teras, nenekku segera memelukku “ Kamu sudah terlambat, nak....lapangkan hatimu...!”
Apa ini ?......ada apa ?....
Dan ternyata, seongkok tulang yang hanya tinggal berlapis kulit, yang sering kupanggil ayah telah menutup mata mengakhiri nafasnya. Tanpa sedetikpun memberiku kesempatan untuk menyapanya walau sepatah kata. Hanya lantunan surah Yasin yang ku bacakan di sampingnya berteman uraian airmata. Memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa itu sungguh menyakitkan. Apa aku ini anak durhaka ?....anak durhaka ?....itukah kata yang pantas aku sanding ?,.....hufh ! Anak durhaka......karena seorang ayah sudah tak mengakui ankanya.
Dan hasil dari ujian  tulis PMDK I sungguh sangat mengecewakan. Entah kemana semangatku. Entah mengapa aku tak merasa sedih sedikitpun ketika mendengar berita tidak diterimanya aku di Universitas Airlangga. Mungkin kesedihan kehilangan sosok ayah jauh lebih berpengaruh. Hanya saja guru dan kepala sekolah yang jauh lebih terpukul. Bagaimana tidak, berita aku si anak MA pinggiran bisa masuk Universitas Airlangga telah merebak entah sampai kemana. “Tak bisa dibayangkan bagaimana malunya”, begitu pak Imam, kepala sekolahku mengungkap.
Aku sudah tak peduli. Aku sudah bosan berusaha. Aku hanya ingin ketenangan batin saja dengan terus belajar ilmu Fiqh dari kitab kuning. Meski aku tak pintar ilmu alat; nahwu, sharraf dan bahasa arab, setidaknya aku bisa menalarnya. Semangatku sudah mencapai titik terendah. Mungkinkah ini keinginan ayahku ?, tak menginginkan aku jauh dari keluarga. Hanya saja aku terlalu bersemangat kala itu, apalagi pihak sekolah yang telah berjasa besar mengantarkanku menuju mimpiku.
Aku merasakan setiap dawai kepedihan dalam setiap hembusan nafasku. Detik berlalu menusuk anganku dan menghancurkan segala mimpiku. Aku sungguh menyedihkan, bahkan orang paling menyedihkan di dunia ini karena aku dibodohi dengan senyumku sendiri yang tak sedikitpun mengurai damai. Kini aku sendiri terperangkap dalam bayang. Aku tak mungkin lagi memiliki dan tak mungkin untukku menagih sesuatu yang tak bisa kumiliki. Mungkin pula saat ini akupun tak bisa memeluk apa yang kudamba. Tak pernah bisa aku menyanjung mimpi yang kini terasa tercekik, jikapun ada sesuap harapan itupun tak untuk memuaskanku. Saat kesedihan masuk melalui celah-celah bahagia aku tak mampu untuk berkutik. Aku tak bisa membohongi hati bahwa mimpi telah melumat asa menjadi putus asa.
“Masih ada kesempatan sekali lagi untukmu, lis. Ada tes PMDK II. Jika tes ini kamu tidak lulus, ya...mungkin masih bukan keberuntunganmu.” Ucap pak Jamal yang selama ini memperjuangkan aku dan menyemangatiku.
“Tapi, pak...!”
“Coba saja dulu. “
Kali ini aku berangkat bukan dengan membawa semangatku. Hanya saja aku membawa harapan dari guru. Terutama Pak Jamal, Pak Imam, Pak Yusron, Bu Rini, dan semua staf guru yang selama ini begitu gigih membantuku. Mulai dari belajar, bahkan hingga transportasi dan segenap administrasi ujian dan lain sebagainya mereka yang menyelesaikannya. Karena aku sendiri tak mungkin bersandar pada ibuku yang baru saja kehilangan suaminya di tambah dengan kondisi keluarga yang memang pas-pasan.
Beribu harapan menyelimutiku. Menguatkan aku menuju semangat baru. Sebuah bakti tulus terhadap sejuta kebaikan orang-orang sekitar yang memperjuangkan aku dan pendidikanku. Sebuah kebangkitan si katak dalam tempurung  yang ingin berkata pada dunia bahwa kesuksesan itu bukan milik orang pintar, bukan milik orang cerdas, pun bukan milik orang kaya, tapi milik mereka yang mau berusaha lebih keras dari siapapun. Tak peduli takdir telah menusuk dan mencincangnya berapa kalipun, tak peduli seberapa banyak  ia terjatuh. Asal setelah jatuh ia terbangun, asal setelah hancur ia menata hati kembali. Asal setelah menangis segera ia hapus airmatanya. Meski ia berkata itu tak mudah. Meski ia berkata itu sulit. Setidaknya ia tetap selalu mencoba untuk bangkit dan bersabar atas kegagalan, karena sejatinya sukses itu tidak tunggal tanpa diikuti kegagalan.Selalu ada pilihan dalam hidup ini untuk membentuk jati diri kita menjadi pribadi yang seperti apa. Aku hanya mencoba memahami sebelum menjawab. Memilih berfikir dahulu sebelum berkata. Selalu mendengar  sebelum mengapresiasi. Hingga akhirnya usaha telah usai aku kerjakan. Maka tinggallah harapan, pengharapan, dan tawakkal sajalah pada Sang Hyang Mahanya Maha,  Sang Pengatur Skenario hihupku. Karena setelah usaha, wilayah hasil adalah wilayahnya Allah.
 Membuka mata terhadap kemungkinan yang terburuk itu tidaklah sepenuhnya salah, walau akhirnya berita bahagia datang juga, setidaknya aku sudah siap sejak awal jika aku kalah dalam kompetisi.
Setidaknya harapan itu membawa kebahagiaan pada akhirnya.
Aku bersama kebahagiaan diizinkan mengecap bangku kuliah oleh Sang Maha Penentu Takdir. Begitu besar nikmat-Nnya. Perjuangan yang sungguh berbuah manis. Jika waktu itu aku sudah menyerah, apa mungkin sekarang aku berada di Surabaya, memungut ilmu satu persatu di ranah Bumi Timur Jawa Dwipa, menjadi ksatria Airlangga, bercerita pada kalian tentang sedikit kisah hidup yang terukir dalam celah-celah hari yang pernah aku arungi.
Sedikit perjuangan menuju kejayaan di masa depan. Jangan pernah ucapkan selamat tinggal jika masih ingin mencoba. Saat kamu terjatuh, tersenyumlah. Karena orang yang pernah jatuh adalah orang yang sedang berjalan menuju keberhasilan. Hidup ini kita yang menjalani, lakukan apapun yang ingin kita lakukan, tapi pastikan itu sebuah cerita yang kelak pantas tuk diceritakan. Menjadi seulas kisah dalam sejarah perjuangan manusia yang pantas untuk di kenang. .... Ini kisah si katak dalam tempurung yang telah keluar menyaksikan dunia.
Dan perjuangan takkan pernah usai selama kita membutuhkan oksigen untuk bernafas. Dan selama kehidupan seorang yang mengaku hamba masih terus mengusahakan bakti tulusnya pada Sang Kholik. Selama itu, aku masih akan terus berjuang di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, menjadi ksatria sekaligus mahasantri yang siap mengabdikan dirinya pada Sang Maha Majikan. Menjadi insan pejuang bagi agama, negara dan dunia sebagai tunas yang memulai perjalannya . InsyaAllah.
Kuatkan imam ketaqwaan
 Ayo rebut kembali kejayaan
Semoga Allah merestui jalan kita
Pupuskan segala godaan
Kobarkan semangat juang kita
Pastikan dirimu selalu ada di jalanNya
Semua ‘kan berarti di mata Ilahi
Pasti kan terbalas segala pengorbaan
Bangunlah, wahai pemuda pemudi CSS MoRA
Ingat masa depan umat ada di pundakmu
Bukalah mata hatimu, padanglah jauh ke depan
Di sana tengah menanti kebahagiaan
Surabaya, Senin, 30 Januari 2012, 23:30
مخلصة

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar